Bunaken Trip | the atmojo

Akhirnya, setelah menunggu lama untuk liburan yang seru, datang juga kesempatan langka ini, trip ke BunakenBunaken Trip | the atmojo. Siapa yang tidak pernah mendengar nama Bunaken? jangankan orang Indonesia, bahkan di luar Indonesia pun nama Bunaken sudah tenar, terutama di kalangan diver (penyelam).

Perjalanan dimulai dari bandar udara dari Soekarno – Hatta, Jakarta, perjalanan udara memakan waktu sekitar 3 jam dengan jarak tempuh 2.200 km.

Bandara Sam Ratulangi

Bandara Udara Internasional Sam Ratulangi adalah pintu gerbang Manado ke dunia internasional, Bandara ini mengambil nama pahlawan asli minahasa, yang bernama lengkap Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi yang juga pernah menjabat sebagai gubernur pertama sulawesi. Beliau terkenal dengan semboyan “Si tou timou tumou tou” yang artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia [1]Bunaken Trip | the atmojo.

Ketika mendarat di sana, satu hal yang saya rasakan: dingin!, saya tidak menyangka suhunya cukup sejuk padahal posisinya dekat dengan laut yang biasanya cenderung lembab dan hangat. Suasananya juga jauh dari kesan crowded, barangkali karena kami mendarat cukup larut disana.

TasikRia Resort

Bunaken Trip | the atmojo

Dari bandara, kami dijemput menggunakan minibus yang berkapasitas kurang lebih 25 penumpang. Dengan kondisi jalanan yang sepi, kami sampai di penginapan Tasik Ria Resort setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam (dari google maps ternyata kami ‘hanya’ menempuh jarak sekitar 34 km).

Tempat kami menginap berada di pinggir pantai yang menghadap ke teluk manado, airnya sangat jernih dan tidak berombak, nyaris seperti danau. Di dekat dermaga banyak sekali gerombolan ikan yang hilir mudik, padahal airnya tidak terlalu bersih.

Penginapan kami sebenarnya juga menyediakan fasilitas kolam renang, tapi lebih enak berenang di laut yah Bunaken Trip | the atmojo. Satu hal yang patut dicatat adalah lebih dari  80% pengunjungnya wisatawan mancanegara (wisman), dan dari informasi yang saya dapat memang sangat jarang wisatawan lokal/nasional menginap disini.

Bunaken Trip | the atmojo

Taman Nasional Bunaken

Bunaken merupakan nama taman nasional yang terletak di daerah sulawesi utara, sekitar 1 jam perjalanan laut dari manado. Taman nasional Bunaken (TNB) sendiri terdiri dari pulau Bunaken, Manado Tua, Montehage Naen dan Siladen. TNB juga terdaftar sebagai situs warisan dunia UNESCO sejak tahun 2005.

Menuju Diving Spot

Dari penginapan, kami harus menempuh waktu sekitar 1 jam untuk mencapai diving spot Lekuan (1, 2 dan 3) lokasinya dekat dengan pulau Bunaken. Kami berangkat pada pagi hari pukul 08.00 WIT, cuaca sangat bersahabat & laut sangat tenang, walaupun pada pagi harinya sempat berawan. Satu hal yang patut diacungi jempol, operator diving di Tasik Ria sangat tegas terhadap aturan, tidak ada tawar menawar, safety first Bunaken Trip | the atmojo.

Voyager

Kapal yang kami tumpangi, Voyager, berukuran panjang sekitar 18 meter, dan sangat leluasa menampung kami semua. Dilengkapi dengan mesin diesel inboard dengan kecepatan maksimum 20 knot, kami melaju menuju diving site Lekuan. Saya pikir laut di sini akan bebas dari sampah-sampah non organik yang dibuang oleh manusia, ternyata saya salah… lumayan banyak sampah kemasan makanan yang kami temui disana… duh miris sekali, daerah yang katanya jadi tujuan wisata kelas dunia kok lautnya dikotori sampah seperti itu.

Sepanjang perjalanan kami mendapatkan briefing dari kru kapal dan dive master voyager. Karena mayoritas dari penumpang saat itu tidak memiliki sertifikasi diver, maka briefingnya pun bersifat sangat mendasar.

Diving Spot Lekuan

Sesampainya di diving spot Lekuan,  kami dipersilahkan untuk snorkling di sekitar area kapal ditambatkan, sebagian lagi langsung terjun diving. Dari area tersebut kami bisa menyaksikan view ke arah pulau Manado Tua yang merupakan gunung berapi yang tidak aktif.

Setelah mencoba snorkling setengah jam, akhirnya giliran saya untuk menjajal diving. Bagi saya ini adalah pengalaman pertama untuk melakuan Diving, sebelumnya paling hanya sekedar ber-snorkling saja. Kesan pertama setelah mengenakan peralatan lengkap, wow berat… bahkan berjalan pelan-pelan menggunakan flipper sudah cukup sulit.

Setelah terjun ke air, dengan ditemani instruktur, saya diminta untuk berlatih nafas di permukaan air dulu, setelah itu mencoba untuk turun ke dasar air, baru sekitar 3 – 4 meter kuping langsung terasa sakit, kontan saja saya minta naik ke permukaan lagi. Ternyata teknik equalize yang saya lakukan salah, maklumlah newbie… Setelah mencoba lagi akhirnya saya bisa turun ke kedalaman 8 meter tanpa rasa sakit. Di kedalaman tersebut, jarak pandang (visibility) sangat baik, saya perkirakan lebih dari 10 meter, arus juga tidak terasa mengganggu. Gerombolan ikan berseliweran di sekitar area diving kami, dari yang berukuran mini hingga yang berukuran sekitar 30 cm. Untuk pengalaman diving pertama ini saya merasa sangat puas.

Dari pengalaman di bawah air tersebut, saya bisa menyaksikan beberapa spesies ikan (yang saya kenali) antara lain napoleon (napoeleon wrasse), botana (surgeon fish) dan beraneka bentuk karang.

Teman saya yang memang memegang sertifikasi diving, bahkan menemukan jauh lebih banyak lagi spesies disana, mulai dari penyu sisik hijau, giant clam, pigmy seahorse, aneka rupa nudi branch, frog fish berwarna kuning cerah dan aneka macam yang lain. Menurut referensi dephut ada 13 genera karang dan 91 jenis ikan mendiami TNB ini[13].

Bunaken Trip | the atmojo

Coelacanth

Nah ini salah satu fakta yang cukup membanggakan (dan baru saya sadari sepulang dari BunakenBunaken Trip | the atmojo), ternyata di perairan TNB dekat Bunaken pada akhir 1997 pernah ditemukan ikan Coelacanth[16], ikan yang dulu pernah dipercaya sudah punah[2]. Ikan Coelacanth alias ikan “Raja Laut” yang tertangkap di perairan manado ini diberi nama latin Latimeria menadoensis.

Makan Siang

Setelah puas menjajal diving Spot Lekuan, kami disuguhi makan siang masakan khas manado, cakalang rica, sayur daun pepaya dan tidak ketinggalan sambal dabu-dabu yang mantab. Sebagai makanan tambahan disediakan pula sandwich yang bisa diramu sendiri. Untuk urusan makan siang, para kru kapal sangat sigap dalam menyiapkan dan menyuguhkannya.

Lezat sekali menyantap makanan dalam kondisi lapar, selain rasa makanannya pun memang mantap .

Perjalanan Pulang

Setelah makan siang, kami menjajal 2 diving spot lagi, saya pribadi hanya bersnorkling saja, kurang lebih kondisinya sama dengan diving spot awal. Namun, lain lagi cerita rekan yang turun diving, di spot ini lebih menarik dibandingkan spot sebelumnya, struktur wall Bunaken yang tenar itu bisa ditemukan di sini.

Perjalanan pulang ditempuh dalam kondisi cuaca yang cukup buruk, ombaknya besar dan kamipun diguyur hujan walau hanya rintik-rintik saja, di kejauhan pun sempat terlihat bibit angin puting beliung muncul sesaat. Sesampainya di darat kamipun mendapatkan suguhan teh dan kopi hangat.

Referensi